Blog

Dapatkan update terbaru terkait industri fintech, produk Xendit dan dapatkan tips untuk mengembangkan produk Anda.

Memberdayakan Kesehatan Perempuan, Berikut 2 Perusahaan Femtech Indonesia yang Menginspirasi!

diaz
Terakhir diperbarui: September 19, 2023
 •  7 min read

women's international day, femtech industry in indonesia

Who run the world? Girls.

Penggalan lirik lagu Beyoncé ini mungkin benar adanya mengingat sekarang sudah mulai banyak perempuan yang memiliki pengaruh besar terhadap beberapa aspek kehidupan.

Sebagai contoh, di bidang politik tentu kita mengenal Sri Mulyani, mantan direktur World Bank yang sekarang menjabat sebagai Menteri Keuangan dengan gelar The Best Minister in The World (2018); Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang memutus stigma tentang citra perempuan dalam politik; dan Yohana Yembise, perempuan pertama yang menjadi menteri dari tanah Papua.

Sementara di bidang teknologi, ada Mesty Ariotedjo, nominasi Forbes 30 under 30 untuk laman kesehatan cetusannya, wecare.id; Diajeng Lestari, pendiri e-commerce muslim pertama di dunia, hijup.com; dan tentunya Tessa Wijaya,  Co-Founder dan COO Xendit yang juga merupakan salah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang berhasil memimpin startup berstatus unicorn.

Perkembangan peran perempuan di ranah teknologi berkembang kian pesat, terbukti dengan makin banyaknya startup yang menyediakan produk yang dirancang khusus sesuai dengan kebutuhan perempuan–aplikasi siklus menstruasi, aplikasi perjalanan kehamilan, dan lainnya.

Ternyata, potensi pasar digital yang menyasar perempuan–baik sebagai founder maupun user–telah berkembang pesat hingga menghasilkan istilah yang disebut dengan Female Technology atau Femtech.

Untuk informasi mendalam tentang bagaimana cerita perjalanan perusahaan femtech di Indonesia, kami telah mewawancarai 2 merchant yang menginspirasi dan telah lama berkecimpung di bidang ini. Baca terus untuk mengetahui kisah mereka.

Apa itu Female Technology (Femtech)?

Pertama-tama, mari kita pahami apa itu femtech.

Sesuai namanya, Femtech adalah istilah yang mengacu pada teknologi atau startup yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan wanita. Seperti pada aplikasi teknologi, perangkat lunak, produk dan layanan yang didesain untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan perempuan. 

fokus utama layanan femtech

Geliat startup femtech di Indonesia mulai merebak sejak pandemi COVID-19, dimana pada saat itu teknologi kesehatan mulai menarik minat masyarakat karena kemudahan akses yang diberikan. Hal ini meningkatkan kesadaran dan kebutuhan akan solusi teknologi, terutama yang dapat membantu perempuan mengatasi masalah kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Di Indonesia sendiri, penggunaan produk dan servis femtech seperti aplikasi dan telemedicine tergolong populer dengan penggunaan masing-masing sebesar 54% dan 38% responden yang menggunakannya. Sementara, produk non-subscription yang termasuk di dalamnya produk kesehatan seksual berada di peringkat terakhir, sebanyak 17%.

produk dan servis femtech yang digunakan di indonesia

Meskipun industri femtech masih terbilang baru dan kecil dibandingkan dengan industri teknologi lainnya, namun secara global perkembangan pesatnya telah menarik perhatian banyak investor dan perusahaan besar. Di tahun 2021 misalnya, total pendanaan untuk industri ini mencapai $14 miliar, meningkat 4 kali lipat sejak tahun 2015.

Melihat peluang ini, kami percaya Indonesia bisa berkontribusi secara signifikan untuk mewujudkan prediksi pasar di bidang startup femtech yang diprediksi mencapai $50 miliar pada 2025 mendatang. 

Peran perempuan dibalik teknologi kesehatanSecara global, perempuan di bidang kesehatan berperan sebagai pendiri, pelaku, dan konsumen sekaligus dengan angka yang menjanjikan.

peran perempuan di balik bidang kesehatan

Di Indonesia, peran perempuan di perusahaan teknologi masih tergolong rendah, hanya sebesar 22%. Jauh dibawah rata-rata pekerja perempuan di industri startup di Asia Tenggara di angka 39%. 

Yuk, kenali profil perempuan pendiri femtech di Indonesia yang menginspirasi ini!

Untuk mengenal lebih dalam mengenai perkembangan startup femtech di Indonesia, simak cerita menarik dari balik bisnis dua merchant kami berikut!

Nona Woman

Nona woman - intrnational women day

Nona Woman adalah platform femtech yang berfokus pada ketidaksetaraan gender permasalahan dan stigma seputar kesehatan perempuan (menstruasi) dan pemberantasan kemiskinan menstruasi, yaitu usaha dalam memberikan kemudahan akses edukasi dan pendistribusian produk menstruasi. Gerakan sosial dan bisnis ini diprakarsai oleh Nicole Jizhar & Monica Pranatajaya pada Maret 2021.

Melalui Nona Woman, Nicole dan Monica ingin mendobrak stigma tabu masyarakat Indonesia mengenai menstruasi dengan tagar #revolusimenstruasi. Mereka juga memanfaatkan berbagai platform untuk menyuarakan tentang kesehatan wanita dengan menyediakan akses kepada produk berkualitas baik, pendidikan dan sistem pendukung lainnya.

Sejauh ini, Nona Woman sudah meluncurkan berbagai produk berbasis kesehatan wanita seperti pembalut dan sabun intim organik, hingga aplikasi pencatat menstruasi.

“Kami nggak hanya sekadar mengambangkan produk, tapi juga movement, gerakan. Kami ingin membuat gerakan mendobrak stigma terkait menstruasi, dimana masih banyaknya perempuan yang tidak aware terhadap tubuh dan reproduksi mereka sendiri. Ini bisa terjadi karena di Indonesia menstruasi itu masih dianggap masalah yang tabu, berbeda dengan yang terjadi di negara lain,” ungkap Monica, Co-Founder & CFO Nona Woman.

Hingga kini, Nona Woman rutin melakukan aktivitas edukasi untuk perempuan. Sebagai contoh, mereka seringkali mengundang profesional dan para ahli untuk hadir dan menjadi narasumber untuk artikel edukasi gratis melalui website, Nona Diaries, maupun serial podcast mereka, Nona Charts. Selain itu, mereka juga rutin melakukan penyuluhan kepada komunitas yang tidak hanya dilakukan melalui webinar gratis, tapi juga melalui pendistribusian produk dan penyediaan ruang untuk berdiskusi seputar masalah kesehatan kewanitaan.

“Kita beberapa kali melakukan webinar, kegiatan komunitas, dan pendistribusian gratis produk menstruasi kita kepada organisasi, panti asuhan, dan komunitas yang ada di Indonesia, paling jauh pernah juga dilakukan di Papua. Kita pengen sebanyak mungkin give back ke masyarakat, ini sejalan dengan visi misi Nona Woman,” jelas Nicole, Co-Founder dan CEO Nona Woman.

A community of women in Papua receiving menstrual care products from Nona Woman
Komunitas perempuan di Papua menerima produk menstruasi dari Nona Woman

Menjadi Ibu

dr ratih menjadi ibu

Bermula dari kekhawatiran kualitas parenting orang tua di Indonesia, dr. Ratih Ayu Wulandari, mendirikan Menjadi Ibu, sebuah website yang berfokus pada kegiatan edukasi seputar parenting, menyusui, dan beragam kelas edukasi lainnya.

Dia memulai kelas-kelas ini berdasarkan pengalaman yang didapatkan di lapangan. Ketika melakukan praktek, dr. Ratih banyak sekali menemukan ibu baru yang masih bingung melakukan perannya. Mereka tidak tahu dimana bisa mendapatkan sumber terpercaya dari para profesional, kecuali dengan langsung datang dan berkonsultasi dengan ahli seperti dokter di rumah sakit.

Hal ini tentu menantang, terutama bagi ibu baru yang memiliki bayi dimana mereka tidak bisa meninggalkan anaknya begitu saja. Sehingga, setelah beberapa pertimbangan, dr. Ratih memberanikan diri untuk membuka kelas pelatihan kecil dengan jumlah terbatas yang berlokasi di rumahnya. Tak disangka, antusias para ibu sangat besar dan sejak saat itu kelas-kelas Menjadi Ibu terus berkembang.

Tetapi, semuanya berubah saat pandemi datang di tahun 2020 lalu. Semua kelas fisik harus beradaptasi menjadi kelas online. Tapi tak disangka, antusias para ibu masih ada. Kemudahan mengakses pembelajaran melalui video melalui website yang bisa diakses 24/7 mempermudah mereka untuk bisa belajar dimanapun, kapanpun. Ini pun menjadi target pasar baru untuk Menjadi Ibu.

“Pada dasarnya saya adalah orang yang melek digital. Saya sudah mulai blogging sejak tahun 2012. Jadi ketika pandemi dan harus switching bisnis ke online, saya sudah punya basic-nya. Saya ingin membantu banyak ibu, terutama ibu baru, yang rata-rata mereka masih belum begitu paham apa yang harus dilakukan. Maka dari itu, saya terus membangun Menjadi Ibu,” jelas dr. Ratih.

Beberapa perkembangan yang dilakukan dr. Ratih di Menjadi Ibu adalah menyediakan beberapa topik kelas baru. Seperti kelas persiapan MPASI dan kelas berenang untuk bayi.

Peningkatan kesejahteraan ibu dan anak inilah yang akhirnya mendorong dr. Ratih melakukan apa yang dilakukannya. Sebagai gambaran, di Indonesia perkiraan prevalensi Balita stunting masih tinggi, sebesar 24.4%.

“Dengan terus mengembangkan Menjadi Ibu, saya berharap langkah kecil ini bisa membantu menekan potensi stunting di Indonesia,” ungkap Ratih.

menjadi ibu
Suasana salah satu kelas Menjadi Ibu
menjadi ibu - clients
Pelanggan Menjadi Ibu di kalangan selebritis Indonesia

Bagaimana Nona Woman dan Menjadi Ibu menghadapi tantangan di industri femtech

beberapa tantangan di industri femtech

Membangun bisnis femtech yang sukses di Indonesia bukannya tanpa tantangan dan hambatan. Berikut adalah beberapa masalah utama yang dihadapi Nona Woman dan Menjadi Ibu, dan bagaimana mereka melaluinya!

  1. Stigma dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan perempuan
    Banyak wanita mungkin tidak mengetahui tentang produk dan layanan yang tersedia bagi mereka, atau mungkin merasa tidak nyaman membicarakan masalah kesehatan mereka secara terbuka. Kurangnya kesadaran ini dapat mempersulit startup femtech untuk mencapai target pasar mereka dan membangun basis pelanggan.Untuk mengatasi permasalahan ini, Nona Woman membangun campaign digital yang berusaha untuk memutus stigma ini. Melalui edukasi yang mereka lakukan di media sosial hingga acara online dan offline, mereka ingin meningkatkan kesadaran tentang pentingnya berinvestasi dalam kesehatan wanita.
  2. Kurangnya keberagaman industri
    Banyak perusahaan di industri ini memproduksi produk serupa satu sama lain. Hal ini dapat membingungkan konsumen ketika mereka ingin membeli sesuatu tanpa mengetahui konteks atau nilai dari produk yang ingin mereka beli.Pendiri Menjadi Ibu, dr. Ratih, percaya bahwa perusahaannya dapat memengaruhi pilihan pelanggan secara positif. Dengan pengetahuan yang didukung oleh data yang baik dan opini profesional, serta gaya komunikasi yang baik.“Pada dasarnya pelanggan akan memilih sesuatu sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Jadi, pastikan kita memproduksi produk yang berkualitas dan memiliki pembeda diantara produk serupa lainnya–entah itu dari value bisnis atau sekadar metode dalam berkomunikasi,” ungkap dr. Ratih
  3. Akses terhadap pendanaan (funding)Dengan semakin berkembangnya industri startup femtech, akan lebih sulit untuk mendapatkan banyak investor, terutama ketika para investor tidak memahami pasar dan potensial bisnisnya. Kurangnya pendanaan dapat membatasi kemampuan startup untuk mengembangkan dan memasarkan produk dan layanan mereka, serta merekrut talenta yang mereka butuhkan untuk mengembangkan bisnis.Untuk mengatasi permasalahan ini, Nona Woman aktif mensosialisasikan tujuan bisnis mereka untuk membangun networking dengan investor dan sesama pebisnis Mereka juga mengikuti beberapa kompetisi startup dan program inkubator seperti London Business School’s E-Club Booster Competition dan Startup Studio Indonesia.

    “Kami rutin mengikuti program inkubator, selain untuk membuka peluang untuk mendapatkan pendanaan, tapi juga untuk melakukan networking yang baik ke sesama pebisnis dan juga mentor. Hal ini juga bermanfaat untuk memperluas perpektif kami dalam pembangunan bisnis,” ungkap Nicole.

Xendit mendukung pemberdayaan perempuan dan bangga bisa bekerjasama dengan pengusaha perempuan ini!

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang financial technology (fintech), Xendit sangat terinspirasi untuk terus bisa mendukung geliat bisnis femtech dari para founder perempuan yang inspiratif. Karena itu, kedepannya, kami sangat menantikan untuk bisa bekerjasama dengan lebih banyak industri femtech lainnya!

Secara internal, sejak awal pendiriannya, Xendit selalu konsisten dalam memberdayakan pekerja perempuan. Kami memiliki kultur kerja yang ramah perempuan dengan memprioritaskan ekuitas dan mempromosikan rasio gender yang seimbang dengan menciptakan ruang kerja yang aman dan sehat. Sejauh ini, lebih dari 30% karyawan Xendit adalah perempuan (dan masih akan terus bertambah) yang tersebar di beberapa negara. 

Kami juga percaya jika perempuan berpotensi bisa memberikan lebih banyak kontribusi. Ini sejalan dengan penelitian terbaru dari McKinsey Global Institute (MGI) menyatakan bahwa jika perempuan berpartisipasi dalam perekonomian secara identik dengan laki-laki, mereka dapat menambahkan sebanyak $28 triliun atau 26% GDP pada tahun 2025 mendatang. Nilai ini sebanding dengan nilai gabungan ekonomi Amerika Serikat dan China.

Sungguh sebuah data yang mengesankan! Dengan ini kami berharap untuk terus bisa berkontribusi dalam pemberdayaan perempuan dalam lingkup kerja industri startup khususnya di Indonesia.

 

tessa wijaya international women day

Artikel terkait

Learn more about Indonesia’s digital economy

  • Indonesia has one of the fastest expanding digital economies in the SEA region with an annual growth rate of 40%
  • The country’s Internet economy is expected to reach $130 billion by 2025
  • By 2023, e-Wallet transaction value is estimated to reach $25 billion

Learn more about Philippines digital economy

  • During the pandemic, 52% of Filipinos shopped online for the first time. The Philippines internet economy is expected to grow at 30% and valued at US$28 billion by 2025.
  • Many consumers have since gone cashless and increased usage of digital payment methods — debit cards, mobile wallets, and bank transfers.
You’re currently on our [current] site. Would you like to visit our [suggest] site instead?